Blog

Kerancuan Istilah: Agen, Distributor, Marketer dan Reseller

A. Pendahuluan

Di dalam dunia bisnis online, seringkali ditemui 4 istilah berikut, yakni: agen, distributor, reseller dan marketer. Keempat istilah ini seringkali saling tercampur di dalam penggunaannya sehingga menjadi bias di dalam maknanya. Untuk mendudukkan setiap istilah ini di dalam ranah fikih muamalah maaliyah, perlu dipahami terlebih dahulu makna masing-masing istilah ini.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Kamus Bahasa Inggris Oxford, definisi dari masing-masing istilah adalah:

1. Agen

Agen adalah orang atau perusahaan perantara yang mengusahakan penjualan bagi perusahaan lain atas nama pengusaha; perwakilan (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/agen).

2. Distributor

Distributor adalah orang atau badan yang bertugas mendistribusikan barang (dagangan); penyalur (https://kbbi-web-id/distributor.html).

3. Reseller

Reseller is a person or company that sells something they have bought to someone else (https://en.oxforddictionaries.com/definition/reseller).

4. Marketer

Marketer is person or company that advertises or promotes something (https://en.oxforddictionaries.com/definition/marketer).

Berdasarkan definisi di atas, maka agen, distributor dan marketer, kedudukan mereka di dalam fikih muamalah lebih dekat dengan status sebagai wakil (الْوَكِيْلُ), sebagaimana hadist terkait penugasan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam kepada shahabat ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu untuk membelikan seekor kambing untuk kurban dengan uang 1 dinar.

Di dalam Shahih Al-Bukhari di dalam kitab Manaqib, Imam Al-Bukhari rahimahullahu Ta’ala meriwayatkan hadist berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا شَبِيبُ بْنُ غَرْقَدَةَ قَالَ سَمِعْتُ الْحَيَّ يُحَدِّثُونَ عَنْ عُرْوَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ دِينَارًا يَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجَاءَهُ بِدِينَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَ لَرَبِحَ فِيهِ

“Telah mengkhabarkan kepada kami Ali bin Abdillah, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan, telah mengkhabarkan kepada kami Syabib bin Ghurqadah, dia berkata: ‘Aku telah mendengar Al Hayy bahwa mereka telah mengkhabarkan tentang ‘Urwah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam memberikan kepadanya (‘Urwah) satu dinar untuk membeli dengannya satu kambing, maka dia (‘Urwah) membeli dengannya (satu dinar) dua kambing dan (kemudian) menjual salah satunya seharga satu dinar, dan dia (‘Urwah) datang kepada beliau dengan satu dinar dan satu kambing, maka beliau (Rasulullah) mendoakan kepadanya (‘Urwah) dengan keberkahan di dalam jual belinya (‘Urwah) dan sekiranya dia (‘Urwah) membeli debu (tanah) maka akan untung di dalamnya.”

Hadist di atas secara tegas menjelaskan bahwa seorang wakil (الْوَكِيْلُ) wajib menjalankan amanah yang diberikan, dalam hal ini adalah pembelian 1 ekor kambing. Dan jika muncul manfaat atau keuntungan (الْمَنْفَعَةُ أَوِ الرِّبْحُ) dari proses wakalah ini (الْوَكَالَةُ), maka seluruh manfaat dan keuntungan ini adalah milik pemberi wakalah/amanah (المُوَكِّلُ). Kaidah ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala di dalam Shahih Al-Bukhari bab “مَنْ لَا يَقْبَلِ الْهَدِيَّةَ لِعِلَّةِ” (orang yang tidak boleh menerima hadiyah dengan sebab), berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيْ حُمَيْدٍ السَّعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: اِسْتَعَمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الْأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ, فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ وَ هَذَا أُهْدِيَ لِيْ. قَالَ فَهَلَّا جَلَسَ فِيْ بَيْتِ أَبِيْهِ – أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ – فَيَنْظُرُ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا؟ وَ الَّذِيْ نَفٍْسِيْ بِيَدِهِ لَا يَأْخُذْ أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ, إِنْ كَانَ بَعِيْرًا لَهُ رُغَاءٌ, أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ, أَوْ شَاةً تَيْعَرٌ – ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطِيْهِ – اَللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ, اَللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ, ثَلَاثًا.

“Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan dari Az-Zuhri, dari ‘Urwah bin Az-Zubair dari bapakku, Humaid As Sa’idiy, semoga Allah Ta’ala meridhainya, dia berkata: ‘Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengutus seorang lelaki dari suku Azd yang dikenal dengan ‘Ibnu Lutbiyyah’ untuk mengambil zakat, maka ketika datang, dia berkata: ‘Ini untukmu (Nabi) dan ini hadiyah untukku’. Maka beliau bersabda: ’Maka mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapaknya – atau di rumah ibunya – kemudian dia melihat apakah diberi hadiyah atau tidak? Dan demi jiwaku yang ada ditanganNya, tidaklah mengambil salah satu dari kalian sesuatu, kecuali dia datang dengannya (barang yang dia ambil) di hari kiamat yang dia memikulnya di atas pundaknya, jika itu unta maka (akan) bersuara, atau sapi maka (akan) melenguh, atau kambing maka (akan) mengembik – kemudian beliau mengangkat tangannya hingga kami melihat ketiaknya – Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan, Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan’, tiga kali.” (HR. Bukhari no. 2597).

Hadist ini menjelaskan bahwa hadiyah (atau manfaat apapun) yang diterima oleh seorang wakil (الْوَكِيْلُ) tidaklah halal bagi dirinya kecuali mendapat izin dari pemberi kerjanya (الْمُوَكِّلُ), karena hadiyah ini didapatkan oleh wakil (الْوَكِيْلُ) karena sebab wakalah (الْوَكَالَةُ) yang diberikan oleh muwakkil (الْمُوَكِّلُ).

Sedangkan berdasarkan makna reseller, maka reseller lebih dekat dengan status sebagai penjual (الْبَائِعُ), dimana dia memiliki tanggung jawab (الضَّمَانُ) atas barang dan berhak atas harga (الثَّمَنُ), daripada sebagai wakil (الْوًكِيْلُ).

 

B. Wakil Penjual (atau Produsen): Distributor, Agen dan Marketer

Dalam skema wakalah ini (الْوَكَالَةُ), produsen atau toko sebagai pemilik barang (صَاحِبُ السِّلْعَةِ) memberikan mandat atau amanah (الْأَمَانَةُ) kepada distributor, agen, dan marketer sebagai wakil (الْوَكِيْلُ), dimana mereka diberikan amanah (الْمُؤْتَمِنُ) untuk memasarkan dan menjualkan barang milik toko atau produsen dengan harga (الثَّمَنُ) dan tatacara untuk berjual beli (الْكَيْفِيَةُ لِالْبَيْعِ) yang ditetapkan oleh toko atau produsen, seperti: pembayaran harga harus tunai (بَيْعَ النَّقْدِ), barang dikirim dari toko/produsen (skema dropship), pembayaran dari konsumen dikumpulkan melalui rekening wakil, dan syarat mubah lainnya.

Di dalam skema wakalah ini (الْوَكَالَةُ), tidak ada tanggung jawab (الضَّمَانُ) bagi wakil (الْوَكِيْلُ) atas kegagalan penjualan, kerusakan barang (الْمَبِيْعُ) atau tidak dibayarkannya harga oleh pembeli (الْمُتْبَاعُ), kecuali jika wakil (الْوَكِيْلُ) melampui batas atau lalai (إِلّا بِالتَعَدَّى أَوِ التَّفْرِيْطِ) atas syarat-syarat atau prosedur yang ditetapkan oleh pemilik barang (الْمُوَكِّلُ).

Kaidah ini berdasarkan keumuman dalil terkait akad amanah (الْأَمَانَةُ) pada pembahasan di bawah. Dan dibolehkan bagi wakil (الْوَكِيْلُ) untuk meminta upah atau komisi (الْأُجْرَةُ) atas pekerjaan yang diberikan, yakni jasa memasarkan dan menjualkan barang, baik berupa nominal uang yang pasti (seperti: gaji bulanan) atau persentase dari omset penjualan. Skema ini, yakni akad yang terjadi antara pemilik barang (الْمُوَكِّلُ) dengan distributor, agen, atau marketer, dikenal dengan akad ijarah (الْإِجَارَةُ) atau disebut juga dengan akad wakalah dengan upah (الْوَكَالَةُ بِالْأُجْرَةِ) dan ini termasuk di dalam bentuk akad amanah (الْأَمَانَةُ), dimana toko atau produsen adalah pihak yang mewakilkan proses pemasaran, penjualan dan koleksi uang pembayaran atas barang yang dijual (الْمَبِيْعُ) lalu menyerahkan/menstranfer uang sebagai pembayaran harga barang (الثَّمَنُ) dan juga informasi detail atas alamat konsumen kepada toko atau produsen (الْمُوَكِّلُ), dan kemudian toko atau produsen mengirimkan barang ke alamat konsumen (الْمُبْتَاعُ).

Syeikh Abdul Adzim al Badawi hafidzahullahu Ta’ala, di dalam kitabnya Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz hal 371-372, memberikan definisi atas akad wakalah. Secara bahasa, wakalah (اَلْوَكَالَةُ) bermakna: اَلتَّفْوِيْضُ وَ الْحِفْظُ (pemberian kuasa dan penjagaan), dan secara istilah bermakna:

إِقَامَةُ الشَّخْصِ غَيْرُهُ مَقَامَ نَفْسِهِ مُطْلَقًا أَوْ مُقَيَّدًا

“menjadikan seseorang selain dirinya untuk menggantikan dirinya baik secara mutlak atau terikat-dengan syarat”.

Dan akad wakalah ini hukum asalnya adalah boleh berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan ‘ijma kaum muslimin. Selanjutnya, beliau hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa sebagai pihak yang diberikan amanah, seperti di dalam akad wakalah (الْوَكَالَةُ), maka tidak ada tanggung jawab (الضَّمَانُ) atas kerusakan atau kehilangan aset perusahaan, kerugian perusahaan atau risiko lainnya, kecuali jika karyawan (الْوَكِيْلُ) yang diberikan amanah tersebut melampaui batas/sengaja atau lalai atas pekerjaannya (إِلَّا بِالتَّعَدِّيْ أَوْ بِالتَّفْرِيْطِ), berdasarkan hadist berikut:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيْهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: لَا ضَمَانَ عَلَى مُؤْتَمَنٍ

“Dari Amri bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: tidak ada tanggung jawab atas orang yang diberikan amanah.” (HR. Baihaqi no. 6/289).

Dengan demikian, maka di dalam skema wakalah di dalam penjualan suatu barang, dimungkinkan terjadinya dropship, dimana agen atau marketer hanya memegang sampel (contoh) atau spesifikasi barang dari toko atau produsen, lalu dia memasarkan atau menjualkan barang kepada konsumen dan barang aslinya dikirim oleh toko atau produsen. Skema ini mirip dengan bentuk jual beli barang yang tidak hadir di dalam majelis jual beli yang disebut dengan الْبَيْعُ الْغَائِبُ عَلَى الصِّفَةِ (jual beli barang ghaib atas apa yang disifatkan).

Terkait jenis jual beli ini, para ulama berbeda pendapat. Di dalam sebagaian madzhab Syafi’i, hukumnya adalah haram. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam An Nawawi rahimahullahu Ta’ala di dalam kitab Minhajut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin halaman 212:

وَ الْأَظْهَرُ:  أَنَّهُ لَا يَصِحُّ بَيْعُ الْغَائِبِ، وَ الثَّانِيْ: يَصِحُّ، وَ يَثْبُتُ الْخِيَارُ عِنْدَ الرُّؤْيَةِ.

“Dan (pendapat) yang nampak: Bahwa sesungguhnya tidak boleh menjual barang ghaib (tidak hadir dalam majlis jual beli), dan (pendapat) kedua: boleh, dan (dengan syarat) menetapkan khiyar ketika (pembeli) melihat (barang yang dibeli)”.

Pendapat yang dinukil beliau rahimahullahu Ta’ala ini didasarkan atas hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullahu Ta’ala, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَ عَنْ بَيْعِ الْغَّرَرِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melarang dari jual beli al hashah dan dari jual beli gharar.” (HR Muslim no. 3808).

Sedangkan jumhur menyatakan bahwa hukum jual beli ini adalah boleh berdasarkan keumuman dalil pada surat Al Baqarah ayat 278. Allah Ta’ala berfirman:

وَ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَ حَرَّمَ الرِّبَواْ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah ayat 275).

Dengan syarat bahwa:

  1. Barang ghaib disifatkan dengan sejelas-jelasnya (مُعَيَّنٌ) seolah-olah pembeli melihat barang tersebut. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullahu Ta’ala:
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: لَا تُبَاشِرُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ, فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا

“Dari Abdullah bin Mas’ud -semoga Allah meridhainya- dia berkata: Janganlah seorang wanita mengkhabarkan (tentang) wanita lain, dan dia mensifatkannya (wanita lain tersebut) kepada suaminya seolah-olah suaminya melihatnya (wanita tersebut).” (HR. Bukhari no. 5240).

  • Ada khiyar bagi pembeli ketika barang sampai di tangan pembeli (الْقَبْضُ) jika barang tidak sesuai sebagaimana yang disifatkan sebelumnya oleh penjual.

 

Dengan demikian, benar bahwa jual beli barang yang ghaib (tidak hadir dalam majelis jual beli) adalah termasuk jual beli gharar, namun gharar pada jual beli ini adalah ringan (غَرَرٌ خَفِيْ) dan ini diperbolehkan. Dan pendapat ini juga dinukilkan di dalam kitab fikih rujukan dari madzhab Syafi’i, yakni kitab yang berjudul التَّذْهِيْبُ فِيْ أَدِلَّةِ مَتْنِ الْغَايَةَ وَ التَّقْرِيْبِ yang terkenal dengan مَتْتُ أَبِيْ شُجَاعِ pada halaman 123, yakni:

الْبُيُوْعُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: بَيْعُ عَيْنٍ مُشَاهَدَةٍ فَجَائِزٌ, وَ بَيْعُ شَيْءٍ مَوْصُوْفٍ فِي الذَّمَّةِ: فَجَائِزٌ إِذَا وُجِدَتْ الصِّفَةُ عَلَى مَا وُصِفَ بِهِ, وَ بَيْعُ عَيْنٍ غَائِبَةٍ لَمْ تُشَاهِدْ فَلَا يَجُوْزُ

“(Jenis-jenis) jual beli ada tiga bentuk: jual beli barang yang dihadirkan maka boleh, jual beli (atas) sesuatu yang disifatkan di dalam tanggungan: maka boleh selama ditentukan sifat atas apa yang disifatkan dengannya, dan jual beli barang yang ghaib yang tidak dipersaksikan (tidak ada disisi penjual) maka tidak boleh”.

 

C. Reseller sebagai Penjual

Ketika reseller harus membeli terlebih dahulu kepada toko atau produsen, yakni dengan mensyaratkan bahwa reseller harus mengirimkan uang untuk pembayaran harga dasar kepada toko atau produsen, meskipun reseller belum menerima pembayaran dari konsumen, maka skema yang mungkin dilakukan adalah jual beli putus, artinya reseller bertindak sebagai penjual barang (الْبَائِعُ) bukan sebagai wakil (الْوَكِيْلُ).

Dalam skema ini, risiko harga, kerusakan barang, atau bahkan barang tidak laku menjadi tanggung jawab dari reseller sejak barang diterima oleh reseller dari toko atau produsen (التَّقْبِيْضُ). Reseller hanya bisa menetapkan harga setelah dia membeli dan telah terjadi serah terima barang (التَّقْبِيْضُ) dari toko atau produsen. Hal ini berdasarkan hadist dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرُوْ, قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَ بَيْعٌ, وَ لَا شَرْطَانِ فِيْ بَيْعٍ, وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يَضْمَنْ, وَ [لَا بَيْعُ] مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Tidak boleh (menggabungkan) hutang dan jual beli, dan tidak boleh (memberikan) dua syarat dalam (satu) jual beli, dan tidak boleh (ada) keuntungan tanpa menjamin (risiko atau kerugian), dan (tidak ada jual beli) atas apa yang tidak engkau miliki.” (HR. Abu Dawud no. 3504).

Sebaliknya, jika penjual belum memiliki barangnya dan dia ingin menetapkan harga, maka wajib bagi pembeli untuk menyerahkan secara tunai uang sejumlah harga yang ditetapkan oleh penjual sebelum berpisah majlis jual beli (بِشَرْطِ التَّقْبِيْضِ قَبْلَ التَّفَرُّقِ). Dan skema ini adalah skema salam, dan boleh hukumnya, terlebih pada barang yang harganya tidak standar di antara penjual pasar, atau sering berubah.

Di dalam skema salam (بَيْعَ السَّلَمِ), ketika melakukan akad salam, posisi penjual (الْمُسْلَمُ لَهُ) adalah belum memiliki barang (الْمُسْلَمُ بِهِ), karenanya dipersyaratkan bahwa pembeli (الْمُسْلِمُ) harus membayar sejumlah harga secara tunai (نَقْدًا) atas barang yang disifatkan (الْمَوْصُوْفُ) dan barang akan diserahkan dikemudian hari pada waktu yang ditentukan (إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوْمٍ). Syarat pembeli harus membayar secara tunai atas harga barang yang disifatkan tersebut adalah agar terhindar dari larangan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam atas jual beli hutang dengan hutang (بَيْعُ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ).

Yakni, ketika barang yang dijual (الْمَبِيْعُ) belum dimiliki oleh penjual (الْبَائِعُ), maka terjadi akad jual beli hutang dengan hutang (بَيْعُ الدَّيْنِ بِالدَّيْنِ), dimana pembeli (الْمُبْتَاعُ) berhutang kepada penjual (atas pembayaran harga barang/الثَّمَنُ) dan penjual juga berhutang kepada pembeli (atas barang/الْمُثْمَنُ yang belum dimiliki namun dijual ke pembeli). Padahal, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melarang dari jual beli hutang dengan hutang, sebagaimana hadist yang dinukilkan dari kitab Minhajul Muslim karya syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi rahimahullahu Ta’ala pada hal. 287 berikut:

نَهَى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْكَالِئِ بِالْكَالِئِ. رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِيْ

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melarang jual beli hutang dengan hutang.” (HR. Ad-Daruquthni no. 3/71, 72).

Selain harga (الثَّمَنُ) telah dibayar tunai (نَقْدًا) dan barang disifatkan dengan jelas, di antara sebab utama diperbolehkan jual beli salam (بَيْعُ السَّلَمِ) adalah pembolehan dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (التَّقْرِيْرُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ) berdasarkan hadist dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang ana nukilkan dari kitab Manhajus Salikin, hal. 135, berikut:

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَ هُمْ يَسْلِفُوْنَ فِيْ الثَّمَارِ السَّنَةَ وَ السَّنَتَيْنِ، فَقَالَ: ((مَنْ أَسْلَفَ فَلْيُسْلِفْ فِيْ كَيْلٍ مَعْلُوْمٍ، وَ وَزَنٍ مَعْلُوْمٍ، إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوْمٍ)). أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ (٣٢٨/٤)، وَ مُسْلِمٌ (١٦٠٤). وَ السَّلَفُ وَ السَّلَمُ بِمَعْنَى وَاحِدٌ.

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam datang ke Madinah dan mereka (penduduk Madinah) melakukan salaf atas buah-buahan setahun dan dua tahun, maka beliau bersabda: (Barangsiapa melakukan salaf maka hendaklah bersalaf di dalam takaran yang diketahui, dan timbangan yang diketahui, hingga waktu yang diketahui).” Meriwayatkannya Al Bukhari (4/328) dan Muslim (1604). “Dan as-salaf dan as-salaf bermakna satu.”

Berdasarkan pembolehan dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di atas, maka jual beli salam adalah pengecualian dari larangan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam terhadap penjual atas menjual barang yang belum dimiliki sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud rahimahullahu Ta’ala berikut:

حَدَثَّنَا مُسَدَّدٌ, نَا أَبُوْعَوَانَةٍ, عَنْ أَبِيْ بِشْرٍ, عَنْ يُوْسُفَ بْنِ مَاهَكٍ, عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ, يَأْتِيْنِيْ الرَّجُلُ فَيُرِيْدُ مِنِّيْ الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِيْ, أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوْقِ؟ فَقَالَ: لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ. اِبْنُ مَاجَهْ:٢١٨٧

“Telah mengkhabarkan kepada kami Musaddad, telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Awanah, dari Abu Bisyr, dari Yusuf bin Mahak, dari Hakim bin Hizam, dia berkata: ‘Wahai Rasulullah, datang kepadaku sorang lelaki yang dia ingin membeli dariku barang yang tidak akau miliki, apakah boleh aku menjual kepadanya (barang yang itu) dari pasar?’ Beliau bersabda: ‘Janganlah engkau menjual apa-apa yang tidak engkau miliki’.” (HR. Abu Dawud no. 3503).

Dari penggabungan beberapa dalil-dalil di atas, memberikan konsekuensi bahwa barang yang dijual (الْمَبِيْعُ) di dalam akad salam (السَّلَمُ) hanya disifatkan saja, dan tidak boleh dipastikan bahwa barang yang ditunjuk baik oleh penjual atau pembeli adalah barang yang akan diserahterimakan, atau barang yang diserahkan berasal dari suatu pohon, hewan, peternakan, sawah atau kolam tertentu yang ditunjuk.

 

D. Skema Akad Salam pada Reseller

Apakah diperbolehkan barang yang dibeli dengan cara salam (الْمُسْلَمُ فِيْهِ) dijual kembali oleh pembeli (الْمُسْلِمُ)?
Jawab: ada dua kondisi terkait pertanyaan ini.

Kondisi Pertama adalah terjadinya skema jual beli biasa (الْبَيْعُ), ditandai dengan pendeknya waktu serah terima barang (تَقْبِيْضُ السِّلْعَةِ) di mana harga barang tersebut di pasar belum sempat berubah, maka wajib barang telah dimiliki dan diterima oleh penjual (الْبَائِعُ) sehingga dimungkinkan bagi pembeli untuk dapat melihat dan memeriksa barangnya sebelum dibeli oleh pembeli. Ini menjadi pendapat dari madzhab Hambali sebagaimana perkataan dari Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi rahimahullahu Ta’ala di dalam kitab Minhajul Muslim dan pendapat ini juga dipegang oleh ustadzuna Erwandi Tarmidzi hafidzahullahu Ta’ala di dalam buku *Harta Haram Muamalat Kontemporer halaman 269-271.

Di dalam kitab “مِنْهَاجُ الْمُسْلِمِ” yang ditulis oleh syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri rahimahullahu Ta’ala, pada Bab (Jual Beli) Salam), halaman 295, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan tentang syarat sah jual beli salam, dan di dalam poin c disebutkan bahwa:

ج – أَنْ يَكُوْنَ أَجَلُهُ مَعْلُوْمًا مُحَدَّدًا, وَ بَعِيْدًا كَنِصْفِ شَهْرٍ فَأَكْثَرَ

“c. Bahwa waktunya (serah terima) harus (ditentukan dengan) jelas dan cukup lama, misalnya: setengah bulan dan (seterusnya yang jangka waktunya) lebih lama dari itu.” (Minhajul Muslim, hal 295).

Kemudian, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan maksud lamanya waktu minimal dari penyerahan barang pada poin c di atas dalam pasal beberapa hukum tentang (jual beli) salam berikut:

أَحْكَامُهُ:٠

١ – أَنْ يَكُوْنَ الْأَجَلُ مِمَّا تَتَغَيَّرُ الْأَسْوَاقُ فِيْهِ وَ ذَلِكَ كَالشَّهْرِ وَ نَحْوِهِ; لِأَنَّ السَّلَمَ فِيْ الْأَجَلِ الْقَرِيْبِ حُكْمُهُ حُكْمُ الْبَيْعِ, وَ الْبَيْعُ يُشْتَرَطُ فِيْهِ رُؤْيَةُ الْمَبِيْعِ وَ فَحَصَهُ

٢ – أَنْ يَكُوْنَ الْأَجَلُ زَمَنًا يُوْجَدُ فِيْهِ غَالِبًا الْمُسَلَّمُ فِيْهِ فَلَا يَصِحُّ أَنْ يُسْلَمَ فِيْ رُطَبٍ فِيْ الرَّبِيْعِ, أَوْ عِنَبٍ فِيْ الشَّتَاءِ مِثْلًا; لِأَنَّهُ مَدْعَاةٌ لِلشِّقَاقِ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Hukum-hukumnya:

1. Bahwa waktu (serah terima) adalah (minimal waktu yang dibutuhkan) dimana pasar-pasar telah mengalami perubahan harga di dalamnya, seperti: sebulan dan selainnya. Karena salam di dalam waktu yang dekat (pendek), hukumnya sama dengan hukum jual beli, dan jual beli mensyaratkan dilihatnya barang dan memeriksanya (barang yang dibeli).

2. Bahwa waktu (serah terima) adalah (minimal) waktu (yang dibutuhkan) (agar) tersedia di dalamnya (pasar) secara mudah dijumpai atas barang yang dipesan di dalamnya (jual beli salam), dan tidak boleh melakukan (jual beli) salam di dalam kurma muda pada musim semi atau (penyerahan) anggur di musim dingin; karena hal tersebut dapat menjadi sebab (terjadinya) perselisihan (atau permusuhan) di antara kaum muslimin.” (Minhajul Muslim, hal 295).

Dan pendapat ini sejalan dengan hadist dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut:

وَعَنْ طَاوُسٍ, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ, قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَكْتَالَهُ. فَقُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: لِمَ؟ فَقَالَ: أَلَا تَرَاهُمْ يَتَبَايَعُوْنَ بِالذَّهَبِ, وَالطَّعَامُ مُرْجَأٌ

“Dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Barangsiapa membeli makanan maka janganlah dia menjual kembali (makanan itu) hingga dia menerimanya. Maka aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: Mengapa? Maka dia (Ibnu ‘Abbas) berkata: Apakah tidak engkau lihat mereka berjual beli (emas) dengan emas, dan makanannya tertunda/diakhirkan.” (HR. Muslim no. 3839).

Ketika waktu serah terima barang yang dijual (الْمَبِيْعُ) sangat pendek dimana harga belum sempat berubah di pasar, maka harus menggunakan skema jual beli biasa yang mensyaratkan penjual menerima barang dari penjual sebelumnya, sehingga pembeli dapat melihat dan memeriksa barang yang hendak dibelinya. Di dalam kitab fikih rujukan dari madzhab Syafi’i, yakni kitab yang berjudul التَّذْهِيْبُ فِيْ أَدِلَّةِ مَتْنِ الْغَايَةَ وَ التَّقْرِيْبِ yang terkenal dengan مَتْتُ أَبِيْ شُجَاعِ pada halaman 125, Abu Syuja rahimahullahu Ta’ala dengan jelas menyatakan bahwa:

وَ لَا بَيْعُ مَا ابْتَاعَهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ

“Dan tidak boleh jual beli atas apa yang dia beli hingga dia menerimanya”.

Dan kalaupun terkendala oleh jarak (penjual dan pembeli tidak hadir di dalam majlis jual beli secara fisik), maka jual beli tetap boleh dilakukan dengan syarat penjual telah menerima barangnya dari penjual sebelumnya, dan ada khiyar pada sisi pembeli ketika barang sampai kepadanya. Ini disebut dengan jual beli barang yang ghaib yang disifatkan (الْبَيْعُ الْغَائِبُ بِالصِّفَةِ) dan ini hukumnya boleh, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawi rahimahullahu Ta’ala di dalam kitab Minhajut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, hal. 212, berikut:

وَ الْأَظْهَرُ:  أَنَّهُ لَا يَصِحُّ بَيْعُ الْغَائِبِ، وَ الثَّانِيْ: يَصِحُّ، وَ يَثْبُتُ الْخِيَارُ عِنْدَ الرُّؤْيَةِ.

“Dan (pendapat) yang nampak: Bahwa sesungguhnya tidak boleh menjual barang ghaib (tidak hadir dalam majlis jual beli), dan (pendapat) kedua: boleh, dan (dengan syarat) menetapkan khiyar ketika (pembeli) melihat (barang yang dibeli)“.

Dengan diterimanya barang oleh penjual, maka tidak ada gharar baginya atas penjualan barang tersebut. Ini berdasarkan atas hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَ عَنْ بَيْعِ الْغَّرَرِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah melarang dari jual beli al hashah dan dari jual beli gharar.” (HR Muslim no. 3808).

 

Kondisi kedua adalah ketika waktu serah terima barang (الْمَبِيْعُ) cukup panjang yang memungkinkannya harga barang di pasar mengalami perubahan. Maka, dalam hal ini skema salam (السَّلَمُ) boleh digunakan. Artinya, terjadi dua akad salam secara pararel (السَّلَمُ الْمُوَازِيْ), dengan dua syarat:

1. Tidak boleh terjadi keterkaitan antara salam satu dengan salam kedua (بِالشَّرْطِ بِغَيْرِ التَّعَلُّقِ بَيْنَ السَّلِمَيْنِ). Yakni, tidak boleh mempersyaratkan bahwa barang yang dipesan (الْمُسْلَمُ فِيْهِ) dan akan dikirimkan pada salam kedua (السَّلَمُ الثَّانِيْ) adalah berasal dari salam pertama (السَّلَمُ الْأُوْلَى). Ada setidaknya dua alasan mengapa persyaratan perikatan di antara kedua salam ini tidak diperbolehkan.

Pertama adalah terkait gharar. Dengan hanya disifatkan barangnya, tanpa ditentukan sumber barangnya, maka penjual (الْمُسْلَمُ لَهُ) dapat mengambil barang darimanapun asalnya, sehingga derajat gharar atas kemampuan menserahterimakan barang menjadi ringan (الْغَرَرُ الْخَفِيِّ), berbeda ketika asal barangnya telah ditentukan maka keberhasilan dikirimkannya barang sangat bergantung pada akad salam pertama, dan mensyaratkan pada sesuatu yang bersifat gharar akan menciptakan gharar yang berat (الْغَرَرُ الْجَلِيِّ).
Kedua adalah hilangnya risiko (الضَّمَانُ) karena risiko pada salam kedua telah dialihkan ke salam pertama. Sehingga, si penjual pada salam kedua akan menerima keuntungan (الرِّبْحُ) atas selisih harga dari kedua salam tanpa menanggung risiko apapun, dan ini terlarang berdasarkan hadist berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرُوْ, قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: لَا يَحِلُّ سَلَفٌ وَ بَيْعٌ, وَ لَا شَرْطَانِ فِيْ بَيْعٍ, وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يَضْمَنْ, وَ [لَا بَيْعُ] مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Amru, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Tidak boleh (menggabungkan) hutang dan jual beli, dan tidak boleh (memberikan) dua syarat dalam (satu) jual beli, dan tidak boleh (ada) keuntungan tanpa menjamin (risiko atau kerugian), dan (tidak ada jual beli) atas apa yang tidak engkau miliki.” (HR. Abu Dawud no. 3504).

2. Pembeli dari salam pertama harus menerima barangnya sebelum menyerahkannya kepada pembeli pada salam kedua. Ketentuan ini berdasarkan hadist dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ, قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: وَ أَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ

“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Barangsiapa membeli makanan, maka janganlah dia menjualnya kembali (makanan itu) hingga dia menerimanya. Dan berkata Ibnu ‘Abbas: Dan aku menduga bahwa setiap barang sama kedudukannya dengan makanan.” (HR. Muslim no. 3838).

Imam Abu Dawud rahimahullahu Ta’ala membuat satu sub bab di dalam Sunan-nya, yakni Bab Seseorang Menjual Apa yang Tidak Dia Miliki (بَابُ فِيْ الرَّجُلِ يَبِيْعُ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ), lalu beliau membawakan hadist berikut:

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ, يَأْتِيْنِيْ الرَّجُلُ فَيُرِيْدُ مِنِّيْ الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِيْ, أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوْقِ؟ فَقَالَ: لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Dari Hakim bin Hizam, dia berkata: Wahai Rasulullah, telah datang kepadaku seorang lelaki yang dia ingin membeli dariku (barang) yang tidak aku miliki, apakah boleh aku menjual kepadanya (barang yang tersebut dan membelinya) dari pasar? Beliau bersabda: Janganlah engkau menjual apa yang tidak engkau miliki.” (HR. Abu Dawud no. 3503).

 

E. Alternatif Skema bagi Reseller: Jual Beli dengan Perjanjian (اَلْبَيْعُ بِالْمُوَاعَدَةِ)

Berdasaran hadist dari Ibnu ‘Abbas dan Hakim bin Hizam radhiyallahu anhuma sebelumnya, ketika reseller belum memiliki barang dan dia juga tidak mendapatkan izin (dari pemilik toko atau produsen) untuk menjualkan barang tersebut, maka, dalam keadaan ini, reseller tidak boleh melakukan akad jual beli dengan pembeli. Berdasarkan hadist dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, reseller tidak boleh menawarkan (atau bahkan menjual) barang kepada pembeli sebelum dia memiliki barang dengan sempurna. Artinya, jika reseller membeli barang dari pemasok, maka reseller baru dikatakan telah sempurna kepemilikannya atas barang tersebut ketika sudah menerima barang (تَقْبِيْضُ السِّلْعَةِ) tersebut dari pemasok, meskipun harganya belum dibayar lunas oleh reseller (jual beli tempo/بَيْعُ الْمُعَجَّلِ). Dan reseller (atau pembeli) hanya boleh melakukan janji (الْوَعْدُ) untuk menjual (atau membeli) tanpa ada kesepakatan harga (الثَّمَنُ) dan harus ada khiyar (الْخِيَارُ) ketika barang telah dibeli dan diterima oleh pembeli.

Secara proses, skema jual beli dengan janji ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Reseller memajang foto barang (dan atau detil spesifikasi barang) yang hendak dijual (namun belum dimiliki) di brosur, website atau lapak toko online-nya, dan hanya memasang “estimasi harga” (bukan harga jual belinya). Harga pastinya disampaikan kepada (calon) pembeli setelah reseller telah sempurna memiliki barang.

2. (Calon) Pembeli tertarik untuk membeli barang. Karena reseller belum memiliki barangnya, maka tidak boleh ada akad jual beli (ditandai dengan disepakatinya harga dan ikatan di antara keduanya), dan diperbolehkan terjadi perjanjian (الْمُوَاعَدَةُ) dari pembeli untuk membeli dari reseller dengan spesifikasi barang dan estimasi harga yang dipasang oleh reseller (harga aktualnya nanti bisa sama atau berbeda dengan estimasinya).

3. Kemudian, reseller membeli barang ke pemasok (baik secara tunai atau kredit), dan terjadi serah terima barang (التَّقْبِيْضُ).

a. Serah terima ini bisa dilakukan secara langsung oleh reseller dengan pemasok (التَّقْبِيْضُ الْحَقِيْقِيْ).

b. Dilakukan secara tidak langsung menggunakan akad wakalah (اَلْوَكَالَةُ). Dalam hal ini, penjual mengangkat seseorang, selama bukan karyawan dari pemasok, sebagai wakil (الْوَكِيْلُ) dari reseller untuk melakukan serah terima barang (التَّقْبِيْضُ) dari pemasok secara langsung. Serah terima hakiki (التَّقْبِيْضُ الْحَقِيْقِيْ) yang dilakukan oleh wakil ini secara hukum adalah serah terima yang dilakukan oleh reseller (التَّقْبِيْضُ الْحُكْمِيْ), karena kedudukan wakil dan reseller sebagai muwakkil (الْمُوَكِّلُ) adalah sama. Karenanya, serah terima yang dilakukan oleh wakil cukup sebagai syarat bagi reseller untuk melakukan akad jual beli dengan (calon) pembeli.

4. Setelah terjadi serah terima barang dari pemasok, reseller diperbolehkan menjual barang ke pembeli dengan harga yang sama atau berbeda dari estimasi harga sebelumnya.

5. Dalam kedua cara serah terima di atas (poin 3), keduanya berfungsi untuk memutus (menyempurnakan) akad jual beli antara reseller dengan pemasok. Dengan adanya serah terima barang ini, tanggung jawab atas risiko (الضَّمَانُ) dari barang telah berpindah dari pemasok ke reseller dan karenanya seluruh hak atas manfaat dari barang juga berpindah ke reseller. Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud rahimahullahu Ta’ala berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, أَنْ رَجُلًا اِبْتَاعَ غُلَامًا فَأَقَامَ عِنْدَهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُقِيْمَ, ثُمَّ وَجَدَ بِهِ عَيْبًا, فَخَاصَمَهُ إِلَى لبنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, فَرَدَّهُ عَلَيْهِ, فَقَالَ الرَّجُلُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَدْ اِسْتَغَلَّ غَلَامِيْ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: اَلْخَرَاجُ بِالضَّمَانِ

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya seorang laki-laki membeli budak, lalu (budak itu) tinggal bersamanya (pembeli) hingga waktu yang ditentukan oleh Allah Ta’ala, lalu dia (pembeli) menemukan adanya cacat, maka dia (pembeli) mengadukannya (penjual) kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka (Nabi) mengembalikannya (budak itu) kepada (penjual)nya, maka dia (penjual) berkata: Wahai Rasulullah, bukankah dia (pembeli) telah mempekerjakan budakku? Maka, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Keuntungan itu dengan tanggungan (risiko).” (HR Abu Dawud no. 3510).

Setelah putus jual belinya, dan telah berpindah tanggung jawab barang dari pemasok ke reseller, maka barang bisa dibawa ke salah satu dari tiga tempat, yakni:

1. Wakil reseller. Jika dibawa ke tempat wakil, maka pengiriman barang bisa dilakukan dari tempat wakil reseller, dan akad wakalah dengan wakil putus (selesai) setelah wakil mengirimkan barang ke pembeli.

2. Reseller. Jika dibawa reseller, maka akad wakalah dengan wakil selesai setelah wakil menyerahkan barang ke penjual.

3. Dititipkan kembali ke pemasok oleh wakil reseller atas permintaan dari reseller. Jika dititipkan ke pemasok, akad wakalah dengan wakil reseller selesai setelah barang diserahterimakan ke pemasok, dan pemasok menjadi wakil reseller. Pengiriman barang ke pembeli nantinya dapat dilakukan melalui pemasok sebagai wakil dari reseller.

 

Demikian penjelasan atas jual beli dengan janji untuk membeli dari pembeli, sebagai solusi ketika reseller belum memiliki barang yang hendak dia jual dan pembeli hanya ingin membeli barang dari reseller tersebut. Semoga penjelasan ini dapat dipahami dan menjadi jalan kebaikan bagi kaum muslimin di dalam menjaga muamalah maaliyah di antara manusia tetap berada di dalam koridor syariat Islam.

 

وَ الصَّلَى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 

Depok, 8 Dzulqa’dah 1439H/22 Juli 2018
Akhukum fillahi,

 

Imam Wahyudi

 

Profil Penulis:

1. Pengajar di Sekolah Muamalah Indonesia (www.sekolahmuamalah.com)
2. Dosen dan Peneliti di Program Studi Ekonomi dan Bisnis Syariah, FEUI (http://staff.ui.ac.id/)
3. Mudir Sekolah Islam Daarul Ilmi Depok (www.darulilmidepok.sch.id)
4. Informasi lainnya (https://scholar.google.com.au/citations?user=zs4k-dIAAAAJ&hl=en)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *